
Review Bambu Lab A2L
- Rating
Kesimpulan
Bambu Lab A2L adalah 3D printer berukuran besar dengan volume cetak luas, fitur lengkap, dan mudah digunakan baik untuk pemula maupun pengguna berpengalaman.
Yang Disukai
- Harga terjangkau
- Volume cetakan besar
- Mudah digunakan
- Aplikasi Bambu Handy sangat praktis
- Dukungan yang luas
Yang Tidak Disukai
- Selang AMS Lite mudah melengkung
Gadgetren – Kini 3D printer berukuran besar semakin terjangkau salah satunya berkat kehadiran Bambu Lab A2L. 3D printer ini menawarkan volume pencetakan hingga 330x320x325 mm atau secara kasarnya cukup untuk mencetak helm berukuran standar.
Menariknya Bambu Lab A2L dibanderol Rp8.999.000 sementara varian A2L Combo yang dilengkapi AMS Lite dijual seharga Rp11.799.000. Dengan harga tersebut, perangkat ini cukup menarik untuk para hobbyist, kreator, maupun pengguna yang baru ingin terjun ke dunia 3D printing.
Dan berdasarkan pengalaman Gadgetren menggunakannya, Bambu Lab A2L memang terasa sangat mudah digunakan sekaligus membuka peluang untuk membuat berbagai macam barang langsung dari rumah.
Unboxing dan Perakitan
Untuk review ini, Gadgetren menggunakan varian Bambu Lab A2L Combo. Boksnya berukuran cukup besar saat datang sehingga perlu menyiapkan ruang yang memadai untuk proses unboxing dan perakitan.
Proses perakitan dan setup Bambu Lab A2L Combo sebenarnya tergolong tidak sulit walaupun pada awalnya mungkin terasa sedikit membingungkan bagi pemula.
Sejujurnya ini merupakan 3D printer pertama yang saya rakit dan konfigurasi sendiri. Sebelumnya saya hanya pernah menggunakan 3D printer yang sudah dalam kondisi siap pakai.

Untungnya Bambu Lab menyediakan panduan lengkap secara langkah demi langkah yang mudah dipahami melalui kanal YouTube maupun situs resminya. Jadi meskipun saya masih tergolong pemula dalam hal perakitan 3D printer, prosesnya terasa cukup familiar.
Bahkan pengalaman merakit Bambu Lab A2L Combo kurang lebih terasa seperti saat merakit komputer. Jadi kalau sebelumnya kamu pernah merakit komputer, kemungkinan besar proses perakitan printer ini tidak akan terasa terlalu asing.
Setelah selesai dirakit, Bambu Lab A2L masih perlu melalui proses kalibrasi dan inisialisasi yang memakan waktu cukup lama. Jadi secara kasar, siapkan waktu sekitar 2-3 jam untuk menyelesaikan seluruh proses perakitan hingga printer siap digunakan.
Desain

Setelah selesai dirakit, Bambu Lab A2L tampil dengan desain open-frame berukuran besar. Frame-nya berbahan metal dipadukan dengan bodi plastik yang kokoh.
Desainnya terlihat menarik tanpa terlalu mengesankan high-tech dan terasa cukup rapi karena kabel-kabel yang menjuntai tidak terlalu banyak.
Dimensinya mencapai 544 x 529 x 505 mm dengan bobot 12,8 kg. Karena ukurannya cukup besar dan printer akan menghasilkan getaran selama beroperasi, Bambu Lab A2L sebaiknya diletakkan di atas meja atau alas yang kokoh.
Untuk varian A2L Combo yang dilengkapi AMS Lite, tentu dibutuhkan area yang lebih luas karena ada tambahan komponen sekaligus bobot beberapa kilogram.
Karena 3D printer memiliki berbagai komponen yang bergerak dan bisa menjadi panas saat beroperasi, sangat disarankan untuk tidak menempatkannya di area yang mudah dijangkau anak-anak atau hewan peliharaan. Akan lebih baik lagi jika perangkat diletakkan di ruangan dengan ventilasi yang baik.

Dari sekian banyak komponen yang ada di Bambu Lab A2L Combo, ada beberapa bagian yang nantinya akan cukup sering kita gunakan. Salah satunya adalah build plate.
Secara bawaan, Bambu Lab menyediakan Textured PEI Plate sebagai build plate. Di sinilah hasil cetakan 3D nantinya terbentuk.
Build plate ini dapat dilepas dengan mudah berkat sistem magnetik. Selain itu materialnya juga cukup lentur sehingga bisa ditekuk untuk membantu melepaskan hasil cetakan dari permukaannya. Bambu Lab A2L juga mendukung beberapa jenis build plate lainnya seperti Engineering Plate dan Cool Plate SuperTack.

Kemudian ada AMS Lite yang menjadi salah satu komponen utama pada varian Combo. Di sinilah kita memasang dan mengatur filamen yang nantinya digunakan untuk mencetak.
AMS Lite dapat menampung hingga empat filamen sekaligus sehingga memungkinkan kita mencetak model dengan beberapa warna berbeda.
Sebenarnya kalau tidak ingin menggunakan AMS Lite, kita tetap bisa menggunakan external spool holder bawaan. Namun jika sudah membeli Bambu Lab A2L Combo, menurut saya penggunaan AMS Lite membuat pengalaman mencetak menjadi jauh lebih praktis.

Terakhir, komponen yang paling sering saya operasikan sekaligus menjadi salah satu favorit saya adalah panel layar sentuhnya.
Panel ini mudah digunakan dan menjadi pusat pengoperasian Bambu Lab A2L. Dari sini kita bisa mengatur berbagai konfigurasi printer, mencetak model 3D bawaan untuk pengujian, hingga melakukan proses kalibrasi. Jika ada eror, akan muncul asisten AI pada layar yang dapat memberikan langkah-langkah untuk memperbaiki eror tersebut.
Pengalaman Print

Untuk mencetak model 3D, kita bisa menggunakan model yang sudah kita miliki atau mengeksplorasi berbagai model yang dibuat oleh komunitas melalui MakerWorld, platform resmi Bambu Lab untuk berbagi model 3D.
Berbagai model di MakerWorld bisa dieksplorasi dengan mudah melalui aplikasi Bambu Handy di Android maupun iOS serta Bambu Studio di Windows dan Mac.
Bambu Handy memiliki antarmuka yang sederhana dan mudah dipahami sehingga menurut saya pemula pun tidak akan kesulitan menggunakannya.
Sementara itu Bambu Studio menawarkan antarmuka yang lebih teknis. Sebagai gantinya, kita mendapatkan kontrol yang jauh lebih luas untuk mengatur berbagai parameter pencetakan bahkan membuat dan mempersiapkan model 3D sendiri.
Model yang tersedia di MakerWorld sangat beragam mulai dari mainan, dekorasi rumah, aksesori handphone, hingga berbagai model untuk cosplay seperti helm.

Proses mencetak model dari MakerWorld pun sangat mudah. Kita tinggal memilih model yang diinginkan, menekan tombol untuk mencetak, memilih profile print, menyesuaikan warna dengan filamen yang tersedia di Bambu Lab A2L, lalu memulai proses pencetakan.
Setelah itu tinggal menunggu hingga proses pencetakan selesai. Waktunya bisa hanya sekitar satu jam tetapi bisa juga lebih dari satu hari tergantung ukuran dan tingkat kompleksitas model yang dicetak.
Buat saya, melihat proses pencetakan 3D ini menjadi keasyikan tersendiri. Entah kenapa menarik saja melihat toolhead Bambu Lab A2L bergerak ke sana kemari sambil mengeluarkan filamen sedikit demi sedikit hingga akhirnya membentuk sebuah objek.

Pada beberapa situasi, printer akan mengeluarkan sisa material 3D printing yang bentuknya menyerupai buntalan benang. Ini merupakan hal yang normal karena menjadi bagian dari proses pembuangan filamen lama atau saat printer perlu membuang sisa filamen dengan warna berbeda sebelum melanjutkan proses pencetakan.
Setelah pencetakan selesai, kita tinggal menunggu hingga suhu build plate turun dan tidak lagi panas. Setelah itu build plate bisa ditekuk secara perlahan untuk melepaskan model 3D yang sudah selesai dicetak. Sesederhana itu proses mencetak model 3D menggunakan Bambu Lab A2L.
Berkat volume pencetakan yang besar, Bambu Lab A2L Combo memungkinkan kita mencetak beberapa barang kecil sekaligus atau bahkan model berukuran besar seperti helm standar.

Namun saat mencoba mencetak helm Mandalorian berukuran kepala, saya justru menemukan kendala yang membuat proses pencetakan harus berhenti di tengah jalan.
Masalahnya ternyata berasal dari selang PTFE untuk filamen dari AMS Lite menuju Bambu Lab A2L yang terlalu melengkung ke bawah. Akibatnya tube tersebut tersangkut pada helm yang sedang dicetak ketika proses pencetakan sudah mencapai ketinggian tertentu.
Masalah selang yang melengkung ke bawah ini tampaknya bukan hanya terjadi pada unit yang saya gunakan. Saya menemukan beberapa kasus serupa di internet, bahkan sudah tersedia solusi berupa support tambahan yang bisa dicetak menggunakan Bambu Lab A2L itu sendiri.

Saya pun akhirnya mencoba mencetak support berbentuk cincin yang bisa dipasang pada bagian atas frame Bambu Lab A2L untuk menjaga agar selang PTFE tidak terlalu melengkung ke bawah.
Lucu juga sebenarnya. Masalah teknis pada sebuah 3D printer justru bisa diperbaiki dengan mencetak komponen tambahan menggunakan 3D printer itu sendiri.
Di luar masalah tersebut, saya tidak menemukan kendala berarti selama menggunakan Bambu Lab A2L. Sudah beberapa macam barang saya cetak menggunakan printer ini dan hampir semuanya berhasil dengan baik kecuali helm Mandalorian tadi.
Beberapa kali saya memang menemukan defek kosmetik minor seperti bagian cetakan yang sedikit mencuat keluar yang masih dalam tahap wajar. Namun masalah seperti ini relatif mudah diperbaiki.

Bambu Lab A2L menggunakan nozzle berukuran 0,4 mm sebagai bawaan yang sudah menjadi ukuran umum untuk 3D printing. Jika diperlukan, nozzle ini juga dapat diganti dengan ukuran lain untuk kebutuhan yang lebih spesifik.
Menurut saya, nozzle 0,4 mm bawaan sudah cukup untuk mencetak berbagai jenis model 3D. Saat mencoba mencetak Tokyo Tower dengan detail jaring-jaring yang sangat tipis, hasilnya tetap terlihat cukup baik. Tentunya saya perlu menyesuaikan beberapa konfigurasi pencetakan agar hasil akhirnya lebih rapi.
Untuk filamen, Bambu Lab A2L mendukung berbagai material seperti PLA, PETG, TPU, dan PVA. Dukungan ini bisa diperluas hingga PLA-CF dan PETG-CF jika nozzle diganti menggunakan jenis Hardened Steel.
Mencetak model 3D dengan Bambu Lab A2L tentunya tetap membutuhkan waktu yang cukup lama terutama untuk model berukuran besar. Namun kita tidak perlu terus-menerus melihat langsung ke perangkat untuk mengetahui perkembangannya.

Bambu Lab A2L sudah dilengkapi kamera yang berada di sisi kanan perangkat. Kamera ini bisa diakses melalui aplikasi Bambu Handy maupun Bambu Studio sehingga kita dapat memantau proses pencetakan dari jarak jauh.
Memang frame rate videonya sangat rendah dan lebih terasa seperti mengambil snapshot setiap beberapa detik. Namun untuk sekadar memantau apakah proses pencetakan masih berjalan dengan normal, menurut saya sudah cukup.
Saat kondisi ruangan gelap, kita juga tetap bisa melihat proses pencetakan dengan jelas berkat lampu yang berada di dekat kamera.
Kamera tersebut juga bisa digunakan untuk merekam timelapse apabila fitur ini diaktifkan sebelum mencetak. Dengan begitu kita bisa melihat keseluruhan proses pencetakan dalam video singkat.
Rekaman timelapse ini disimpan pada kartu microSD 32 GB bawaan yang sudah disertakan dalam paket penjualan. Slot microSD-nya sendiri berada di bagian depan bodi Bambu Lab A2L.
Fitur Lainnya

Bambu Lab A2L sebenarnya masih memiliki banyak fitur lain yang menarik untuk dieksplorasi. Misalnya kita bisa mengganti toolhead dengan cutting atau pen module untuk mendapatkan fungsi berbeda seperti memotong stiker atau menggambar.
Bambu Lab juga menyediakan aplikasi Bambu Suite untuk mendukung berbagai fungsi tersebut.
Selain itu kita dapat mengombinasikan hingga empat unit AMS dan satu AMS Lite untuk menyediakan input filamen yang lebih banyak, bahkan hingga 19 warna sekaligus.
Jika kamu tertarik mengeksplorasi fitur-fiturnya lebih jauh, Wiki Bambu Lab untuk A2L menjabarkan berbagai fitur-fitur tambahan dengan cukup detail dan mudah dipahami.
Kesimpulan

Setelah menggunakannya, menurut saya Bambu Lab A2L merupakan 3D printer yang sangat mumpuni untuk mencetak berbagai macam model mulai dari objek berukuran kecil hingga besar, serta dari model sederhana hingga yang memiliki detail cukup rumit.
Fitur yang ditawarkan juga sangat lengkap tetapi tetap dikemas dengan baik sehingga perangkat ini masih terasa mudah digunakan oleh pemula sekalipun. Di sisi lain, pengguna yang sudah berpengalaman tetap memiliki banyak opsi untuk mengatur proses pencetakan secara lebih mendalam.
Dengan harga mulai dari Rp8.999.000, Bambu Lab A2L menawarkan kemampuan yang cukup menarik untuk sebuah 3D printer berukuran besar. Di Indonesia, perangkat ini juga sudah resmi tersedia bersama aksesori dan part pendukung termasuk filamen yang harganya berada di kisaran Rp100 ribuan.

Bambu Lab A2L membuka kesempatan untuk membuat berbagai macam barang sendiri di rumah. Saya bahkan bisa mencetak dekorasi rumah hingga komponen sederhana yang digunakan untuk membantu memperbaiki berbagai hal.
Satu hal yang saya kurang suka dari perangkat ini adalah selang PTFE dari AMS Lite pada varian Combo yang saya gunakan. Selang tersebut terlalu mudah melengkung ke bawah sehingga berpotensi mengganggu proses pencetakan terutama saat mencetak objek yang tinggi.
Untungnya masalah tersebut masih bisa diatasi dengan mencetak support tambahan yang tersedia di MakerWorld.



Tinggalkan Komentar