
Review BeeStation
- Rating
Kesimpulan
BeeStation adalah cloud storage personal yang praktis dan mudah digunakan untuk membackup berbagai data penting dari handphone maupun komputer. Dengan begitu, kita tidak perlu khawatir storage handphone cepat penuh karena terlalu banyak menyimpan foto dan video.
Yang Disukai
- Mudah digunakan
- Aplikasi ringan dan familiar
- Mendukung integrasi cloud storage lain
- Dilengkapi port USB
Yang Tidak Disukai
- Hanya menggunakan 1 harddisk
Gadgetren – Coba cek apa yang paling banyak memakan ruang penyimpanan di handphone kamu. Saya yakin jawabannya kemungkinan besar adalah foto dan video.
Semakin canggih kamera di handphone, kita juga jadi semakin rajin foto-foto dan merekam video. Masalahnya semakin banyak foto dan video yang tersimpan, semakin cepat pula ruang penyimpanan handphone penuh. Belum lagi risiko kehilangan data jika foto dan video tersebut tidak pernah dibackup.
Solusi yang paling umum adalah menggunakan layanan cloud storage seperti Google One atau Apple iCloud. Cara ini memang praktis tetapi kita harus membayar biaya langganan secara rutin setiap bulan. Nah, ada alternatif lain yang menarik yaitu menggunakan BeeStation dari Synology.
Apa Itu BeeStation?
Sederhananya, BeeStation adalah cloud storage pribadi yang bisa digunakan untuk membackup foto, video, hingga dokumen dari handphone maupun komputer dengan mudah.
Cara kerjanya kurang lebih mirip dengan layanan cloud storage seperti Google One atau Apple iCloud namun data disimpan di perangkat BeeStation yang ada di rumah kita sendiri.
BeeStation tersedia dalam kapasitas 4TB dan 8TB. Menurut saya kapasitas tersebut sudah cukup besar untuk menyimpan berbagai data dari handphone maupun komputer di jaman sekarang.

Apa yang Beda dari BeeStation?
Menggunakan BeeStation sebagai tempat backup data punya beberapa keunggulan dibandingkan layanan cloud storage pada umumnya.
Pertama, dalam jangka panjang biayanya bisa lebih murah karena kita tidak perlu membayar biaya langganan cloud setiap bulan.
Kedua, saat berada di rumah dan terhubung ke jaringan yang sama dengan BeeStation, proses backup maupun mengakses data terasa jauh lebih cepat dan tidak memakan kuota internet. Ini karena data diakses secara lokal melalui jaringan rumah.
Ketiga, yang tidak kalah penting, kita juga lebih bebas dalam mengelola data.

Desain Minimalis dan Ringkas
Mungkin kamu membayangkan perangkat seperti ini akan terlihat sangat teknis dan rumit. Namun BeeStation justru hadir dengan desain yang cukup minimalis.
BeeStation berbentuk balok berwarna hitam dengan ukuran yang tidak jauh berbeda dari router WiFi yang umum kita temukan di rumah.
Di bagian depan hanya terdapat satu lampu indikator untuk menunjukkan status perangkat. Sementara itu lubang-lubang ventilasi berada di bagian atas dan seluruh tombol serta port berada di bagian belakang.

Di sana terdapat satu port RJ-45 untuk menghubungkan BeeStation ke router menggunakan kabel LAN serta port USB-A 3.2 Gen 1 dan USB-C 3.2 Gen 1 untuk menghubungkan perangkat penyimpanan eksternal.
Instalasinya Mudah
Mengoperasikan BeeStation juga tergolong mudah. Cukup sambungkan adapter daya ke perangkat, hubungkan BeeStation ke router menggunakan kabel LAN, lalu tekan tombol power di bagian belakang.
Kita tidak perlu memiliki pengetahuan mendalam mengenai jaringan komputer untuk melakukan setup awal. Prosesnya pun dipandu dengan cukup baik oleh BeeStation dan bisa dilakukan melalui komputer maupun handphone dengan mengakses halaman web portal.bee.synology.com.
Portal web ini juga digunakan untuk melihat informasi dan mengatur berbagai fungsi BeeStation. Pengaturannya tergolong sederhana dan mayoritas bisa dilakukan dengan klik-klik saja.

Menggunakan BeeStation
Untuk menggunakan BeeStation dari handphone maupun komputer, ada dua aplikasi utama yang bisa digunakan yaitu BeePhotos dan BeeFiles.
Sesuai namanya, BeePhotos merupakan aplikasi yang digunakan untuk membackup foto dan video ke BeeStation. Jika sebelumnya sudah terbiasa menggunakan Google Photos, tampilan dan cara kerja BeePhotos akan terasa cukup familiar.
Foto dan video dari handphone bisa diatur untuk otomatis dibackup ke BeeStation. Kita juga bisa menentukan folder mana yang ingin dibackup, misalnya hanya foto dari kamera atau seluruh folder foto dan video yang ada di handphone.
Pengaturan backup-nya juga cukup fleksibel. Kita bisa memilih apakah hanya foto yang dibackup, apakah backup hanya dilakukan ketika terhubung ke WiFi, hingga apakah backup hanya berjalan ketika handphone sedang di-charge.
Setelah dibackup, seluruh foto dan video tersebut bisa dengan mudah dilihat kembali melalui aplikasi BeePhotos. Saat saya gunakan di Galaxy S26 Ultra, aplikasinya terasa ringan dan responsif.

Kita juga bisa membuat album dari foto dan video yang sudah dibackup. Menariknya, BeePhotos dapat mengenali wajah yang ada di foto dan juga memetakan lokasi pengambilan foto sehingga kita bisa lebih mudah mencari foto tertentu. Tidak ada fitur edit foto di aplikasi ini namun menurut saya bukan masalah besar.
Selain foto dan video, kita juga bisa menyimpan berbagai jenis file menggunakan BeeFiles. Kalau sudah terbiasa menggunakan Google Drive, aplikasi ini juga akan terasa cukup familiar.
Menariknya melalui BeeFiles, kita bisa menghubungkan layanan cloud storage seperti OneDrive, Google Drive, dan Dropbox. Dengan begitu data dari layanan tersebut juga bisa dibackup ke BeeStation.
Selain itu kalau kita menghubungkan flashdisk atau harddisk eksternal ke port USB di bagian belakang BeeStation, data yang tersimpan di dalamnya juga bisa langsung diakses melalui BeeFiles.
Jika ingin berbagi foto, video, atau file yang tersimpan di BeeStation, kita bisa menambahkan pengguna baru lalu memberikan akses ke folder, album, atau file tertentu. Kita juga bisa membagikannya kepada orang lain melalui link publik tanpa perlu menambahkan mereka sebagai pengguna.
Khusus untuk komputer, tersedia juga aplikasi BeeStation for Desktop yang memungkinkan file di komputer disinkronisasi secara otomatis dengan BeeStation.
Ada satu fitur yang menurut saya wajib diaktifkan, yaitu SMB Service yang bisa ditemukan melalui portal web BeeStation.
Dengan fitur ini, kita bisa mengakses seluruh file termasuk foto dan video yang ada di BeeStation langsung melalui File Explorer di Windows atau Finder di Mac.

Yang Perlu Diperhatikan
Walaupun BeeStation bisa membantu mengurangi biaya langganan cloud storage dan memberikan kontrol lebih besar terhadap data, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Pertama, BeeStation perlu terus menyala agar bisa melakukan backup secara otomatis. Namun konsumsi dayanya tergolong rendah yaitu hingga 2,83W saat hibernasi dan hingga 14,75W ketika sedang aktif digunakan. Jika terjadi mati listrik, BeeStation bisa menyala kembali secara otomatis ketika listrik kembali tersedia.
Kedua, data di BeeStation tetap perlu dibackup. Mungkin terdengar agak aneh. Bukankah BeeStation sendiri digunakan untuk backup?
Ini karena meskipun BeeStation terlihat mirip dengan Network Attached Storage (NAS), perangkat ini hanya menggunakan satu harddisk sehingga tidak mendukung sistem RAID untuk memberikan perlindungan data tambahan.
Jadi kalau harddisk di dalam BeeStation mengalami kerusakan, data yang tersimpan di dalamnya juga berisiko hilang.
Cara paling mudah untuk melakukan backup adalah menggunakan BeeProtect dari Synology meskipun layanan ini membutuhkan biaya langganan tahunan.
Alternatifnya, data di BeeStation juga bisa dibackup ke harddisk eksternal atau bahkan ke NAS Synology jika kamu memilikinya.

Apakah BeeStation Layak Dibeli?
Dengan harga sekitar Rp8 jutaan untuk varian 4TB dan Rp14 jutaan untuk varian 8TB, BeeStation memang terlihat cukup mahal di awal. Ditambah lagi ini juga dikarenakan harga komponen penyimpanan data semakin mahal belakangan ini.
Namun, perhitungannya menjadi berbeda jika digunakan dalam jangka panjang. Sebagai gambaran, paket Google AI Pro 5TB saat ini sekitar Rp3,4 juta per tahun setelah pajak sedangkan iCloud+ 6TB sekitar Rp7,9 juta per tahun.
Memang kapasitasnya tidak sama persis dan layanan yang ditawarkan juga berbeda. Namun jika biaya langganan tersebut dihitung untuk tiga tahun, total pengeluarannya sudah cukup besar.
Sementara dengan BeeStation, setelah membeli perangkat kita tidak perlu lagi membayar biaya langganan bulanan. Kita hanya perlu memperhitungkan konsumsi listrik yang relatif kecil serta biaya penggantian perangkat jika nantinya sudah perlu diganti.
Jadi apakah BeeStation layak dibeli?
Menurut saya layak banget terutama bagi kamu yang ingin punya tempat backup data yang mudah digunakan dan kamu ingin mengurangi ketergantungan pada cloud storage berbayar.
Setup-nya tidak sulit, sinkronisasi data dari perangkat ke BeeStation juga terasa cepat ketika berada dalam satu jaringan, sementara antarmuka aplikasinya familiar dan mudah digunakan.
Namun tetap jangan lupa bahwa data di BeeStation juga perlu dibackup untuk mengantisipasi jika terjadi kerusakan pada harddisk.
Dan bagi kamu yang sudah terbiasa menggunakan NAS, jangan berharap BeeStation memiliki fitur selengkap NAS Synology pada umumnya karena memang bukan itu target penggunaan utamanya.


Tinggalkan Komentar