ASUS Zenbook DUO UX8407
Review Aksesoris dan Periferal

Review Nothing Ear (3a) – Gak Cuma Keren, Tapi Juga Audionya Nendang

Nothing Ear (3a) - Gadgetren Editors Choice

Review Nothing Ear (3a)
  • Rating
4.5

Kesimpulan

Nothing Ear (3a) menjadi salah satu TWS paling stylish yang pernah digunakan tim Gadgetren. Tidak hanya menawarkan desain unik, TWS ini juga memiliki kualitas audio yang mumpuni serta beragam fitur menarik dan bermanfaat.

Yang Disukai

  • Desain stylish
  • Kualitas audio mumpuni
  • Fitur lengkap
  • Noise cancelling efektif
  • Equalizer sangat bisa dikustomisasi

Yang Tidak Disukai

  • Case suka agak canggung saat dibuka
  • Masih terasa sedikit latency

Saya selalu suka dengan earphone keluaran Nothing karena biasanya menawarkan desain yang unik tanpa mengorbankan kualitas suara. Hal tersebut kembali saya temukan pada Nothing Ear (3a).

Earbud nirkabel ini resmi masuk ke Indonesia sejak akhir Juli 2026 dengan harga Rp1.699.000 dan pilihan warna yang cukup variatif.

Tidak hanya mengandalkan desain, Nothing Ear (3a) juga membawa sejumlah fitur menarik, mulai dari active noise cancelling (ANC), perekaman panggilan telepon langsung melalui earbud, hingga kualitas audio yang menurut saya cukup mumpuni di kelas harganya.

Desain

Nothing Ear (3a) kembali mengusung desain semi transparan yang sudah menjadi ciri khas Nothing. Kombinasi warna putih dengan aksen hitam dan bagian transparan pada earbud terlihat sangat menarik bagi saya tanpa terlihat mencolok.

Earbud ini memiliki tangkai yang menjulang dengan bobot masing-masing yang ringan sehingga tidak terasa membebani telinga.

Pada bagian ujungnya terdapat eartip berbahan silikon yang membantu mengisolasi suara secara pasif sekaligus membuat earbud tidak mudah bergeser saat digunakan.

Nothing Ear (3a)

Saya sendiri memang lebih menyukai earbud dengan eartip silikon karena terasa lebih nyaman di telinga. Selama menggunakan Nothing Ear (3a) selama berjam-jam untuk mendengarkan musik, telinga saya tetap terasa nyaman.

Untuk membedakan earbud kanan dan kiri, Nothing tidak menggunakan simbol L dan R seperti yang umum ditemukan pada earbud lainnya. Sebagai gantinya, Nothing menggunakan aksen warna hitam dan merah yang turut membuat desainnya terlihat semakin menarik.

Case-nya pun tidak kalah unik. Nothing menggunakan bentuk oval pipih dengan material semi transparan serta bagian sisi yang sedikit mencuat.

Penempatan earbud di dalam case juga cukup menarik karena keduanya diletakkan dalam posisi tidur menyamping dengan pin charging yang menonjol. Saat dimasukkan ke dalam case, earbud akan otomatis berada di posisi yang tepat berkat sistem magnetik.

Di sisi kiri bagian dalam case terdapat lampu indikator yang menunjukkan level baterai case sedangkan tombol pairing berada di sisi kanan. Untuk mengisi daya, tersedia port USB-C di bagian belakang case.

Nothing Ear (3a)

Sayangnya ada satu hal dari case yang kurang saya sukai yaitu proses membukanya. Bentuk case yang pipih di bagian tengah ditambah material yang agak licin terkadang membuat saya harus menyesuaikan posisi jari terlebih dahulu agar bisa membukanya dengan baik.

Untuk ketahanan terhadap air, Nothing Ear (3a) sudah mengantongi sertifikasi IP54 baik untuk earbud maupun case. Dengan begitu perangkat ini tetap aman ketika terkena cipratan air dalam penggunaan sehari-hari.

Kualitas Audio

Nothing Ear (3a)

Soal kualitas audio, kepiawaian Nothing dalam membuat perangkat audio kembali terasa pada Nothing Ear (3a).

Kualitas suaranya bisa saya bilang sangat memuaskan untuk earbud di kelas harganya. Detail pada musik dapat terdengar dengan baik, vokal terdengar jelas, sementara dentuman bass juga terasa walau mungkin bagi sebagian orang akan terasa agak berlebihan.

Pengalaman mendengarkan musik juga semakin nyaman berkat fitur active noise cancelling (ANC). Saat menggunakan earbud ini di dalam kereta yang cukup ramai dengan ANC mode High, suara-suara dari sekitar dapat diredam dengan baik.

Suara mesin kereta terdengar sayup-sayup sementara suara announcer yang memang cukup kencang juga masih bisa masuk.

Namun secara keseluruhan, kemampuan ANC-nya membuat saya bisa lebih fokus menikmati musik baik saat bekerja maupun dalam perjalanan.

Jika ingin tetap waspada dengan kondisi sekitar, tersedia mode Transparency. Saat mode ini diaktifkan, suara dari luar maupun suara saya sendiri dapat terdengar dengan jelas.

Untuk kebutuhan panggilan telepon, mikrofon pada Nothing Ear (3a) juga mampu menangkap suara saya dengan cukup jelas. Kualitas rekamannya memang biasa saja tetapi sudah lebih dari cukup untuk melakukan panggilan telepon melalui earbud.

Fitur dan Aplikasi Nothing X

Nothing Ear (3a)

Nothing menyediakan fitur Equalizer melalui aplikasi Nothing X yang tersedia untuk Android maupun iOS. Menariknya pengaturan equalizer ini bisa dipersonalisasi dengan cukup leluasa.

Kita bisa memilih template equalizer yang tersedia di aplikasi atau bahkan memindai QR setup equalizer milik pengguna lain. Dengan begitu kita tidak harus mengatur karakter suara dari awal jika ingin mencoba pengaturan yang dibuat pengguna lain.

Melalui aplikasi Nothing X, kita juga bisa memilih codec audio yang digunakan yakni AAC atau LDAC. Selain itu tersedia fitur Spatial Audio yang membuat pengalaman mendengarkan terasa lebih imersif.

Bagi saya efeknya cukup terasa ketika digunakan untuk menonton film, rasanya seperti berada di dalam bioskop dengan dentuman bass yang lebih menggetar dan vokal yang terdengar lebih memenuhi ruang.

Namun ada konsekuensi ketika fitur ini digunakan, equalizer otomatis dinonaktifkan dan karakter suara ikut berubah. Beberapa detail suara juga terasa lebih sulit terdengar dibandingkan ketika menggunakan pengaturan audio normal.

Nothing Ear (3a)

Karena itu menurut saya Spatial Audio lebih cocok digunakan untuk menonton film dibandingkan mendengarkan musik.

Selain dikontrol melalui aplikasi Nothing X, beberapa fungsi Nothing Ear (3a) juga dapat diatur langsung melalui gestur cubitan pada tangkai masing-masing earbud.

Hampir semua jenis gestur, kecuali cubit sekali, dapat diubah fungsinya melalui pilihan yang tersedia di aplikasi Nothing X. Yang saya suka, gestur cubit ini terasa mudah digunakan.

Konektivitas

Nothing Ear (3a)

Nothing Ear (3a) dibekali Bluetooth 6.0 yang selama penggunaan saya terasa sangat stabil. Saya tidak pernah mengalami masalah konektivitas yang mengganggu bahkan ketika handphone saya terpisah beberapa tembok beton dari earbud.

Yang saya suka, Nothing Ear (3a) juga mendukung koneksi ganda sehingga bisa terhubung ke dua perangkat sekaligus. Suara akan otomatis keluar dari perangkat yang sedang aktif memutar audio.

Kita juga bisa memilih perangkat mana saja yang ingin tetap terhubung melalui aplikasi Nothing X. Fitur ini membuat perpindahan antara dua perangkat menjadi lebih praktis, misalnya ketika saya berpindah dari handphone ke laptop.

Sayangnya saya masih menemukan latency sekitar 200-300 milidetik. Untuk sekadar mendengarkan musik tentu bukan masalah, tetapi ketika bermain game atau menonton film, terlihat sedikit ketidaksinkronan antara tampilan di layar dan suara jika diperhatikan dengan seksama.

Nothing menyediakan Low Lag Mode yang dapat diaktifkan untuk mengurangi latency tersebut. Namun berdasarkan pengalaman saya, perbedaannya belum terasa terlalu signifikan.

Perekaman Panggilan Telepon

Nothing Ear (3a)

Salah satu fitur unik pada Nothing Ear (3a) adalah Call Recording. Sesuai namanya, fitur ini memungkinkan kita merekam percakapan telepon, termasuk panggilan WhatsApp, langsung melalui earbud menggunakan gestur cubitan.

Ketika fitur ini mulai aktif, sistem earbud akan memberikan notifikasi yang memberitahukan bahwa panggilan sedang direkam. Notifikasi tersebut juga terdengar oleh lawan bicara sehingga proses perekaman tidak bisa dilakukan secara diam-diam.

Hasil rekaman kemudian disimpan di dalam earbud dengan kapasitas total hingga sekitar 2 jam percakapan. Untuk mengaksesnya, kita bisa membuka aplikasi Nothing X dan menyimpan hasil rekaman tersebut ke handphone.

Menariknya rekaman yang sudah tersimpan juga bisa dibuatkan transkrip sekaligus dirangkum. Fitur transkripsinya mendukung beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Saat pertama kali mengaktifkan fitur ini, kita mendapatkan trial mode Pro selama tiga bulan dengan batas transkripsi hingga 120 menit setiap bulannya.

Jika setelah masa trial berakhir tidak ingin menggunakan mode Pro, tersedia mode Standard yang bisa digunakan secara gratis. Namun berdasarkan pengalaman saya, hasil transkripsi mode Standard masih cukup berantakan dan tingkat akurasinya jauh di bawah mode Pro.

Selain Call Recording, terdapat fitur lain bernama Audio Snapshot yang konsepnya cukup mirip. Bedanya, fitur ini merekam suara apa saja yang sedang dikeluarkan melalui earbud hingga durasi maksimal satu menit.

Namun berbeda dengan Call Recording, saya masih belum menemukan skenario penggunaan yang benar-benar pas untuk Audio Snapshot dalam aktivitas sehari-hari.

Baterai

Nothing Ear (3a)

Soal ketahanan baterai, Nothing Ear (3a) cukup memuaskan dengan baterai berkapasitas 55mAh di masing-masing earbud dan 500mAh pada case.

Earbud ini mampu digunakan selama lebih dari 6,5 jam untuk mendengarkan musik secara nonstop dengan ANC mode High dari kondisi baterai 100% hingga tersisa 10%. Tentunya daya tahan baterainya masih bisa lebih lama jika fitur ANC tidak digunakan.

Saat perlu diisi daya, earbud ini juga tergolong cepat. Saya hanya membutuhkan waktu sekitar 48 menit untuk mengisi baterai dari 10% hingga penuh.

Setelah digunakan untuk mengisi ulang earbud, baterai pada case yang saya cek masih tersisa sekitar 70%. Artinya case masih bisa memberikan tambahan waktu penggunaan sekitar 24 jam sebelum perlu kembali diisi daya.

Kesimpulan

Nothing Ear (3a)

Sejauh ini, Nothing Ear (3a) adalah earbud nirkabel paling stylish yang pernah saya gunakan. Saya benar-benar menyukai desainnya terutama perpaduan warna putih semi transparan dengan aksen hitam yang membuatnya terlihat unik tanpa terasa berlebihan.

Daya tarik Nothing Ear (3a) tidak hanya terletak pada desain. Kualitas audio yang dihasilkan dan fitur-fiturnya juga terasa memuaskan di kelas harganya.

Nothing juga terlihat cukup rajin memberikan pembaruan firmware. Selama beberapa minggu saya menggunakan dan menguji earbud ini saja, sudah ada dua kali pembaruan firmware yang tersedia.

Sejujurnya tidak ada kekurangan besar yang saya rasakan selama menggunakan Nothing Ear (3a). Kekurangan yang paling terasa justru ada pada case-nya yang terkadang agak canggung saat dibuka karena bentuknya yang pipih serta materialnya yang cukup licin.

Selain itu latency-nya masih terasa saat digunakan untuk bermain game meskipun tersedia Low Lag Mode.

ASUS Zenbook DUO UX8407

Tentang penulis

Firman Nugraha

Editor-in-Chief Gadgetren yang sudah belasan tahun berpengalaman di dunia teknologi khususnya handphone. Awalnya ia pernah menjadi developer aplikasi Android di Nexian dan kini terjun ke dunia media.

Tinggalkan Komentar