Berita Perangkat Pintar

Ingin Jadi Bagian Ekosistem Pendidikan, ViewSonic Bawa Strategi Baru di Indonesia

Viewsonic-1

Gadgetren – Dalam rangka ulang tahun ke-35, produsen teknologi ViewSonic membeberkan strategi terbarunya di Indonesia untuk semakin dekat dengan para penggunanya dan memperluas juga pasarnya.

Strategi yang digaungkan ViewSonic bertajuk Ecosystem as a Service (EaaS). Salah satu bidang yang akan menjadi fokus utama ViewSonic guna melaksanakan strategi tersebut ialah di dunia pendidikan di mana sebelumnya ViewSonic sendiri ingin menjadi bagian dalam ekosistem tersebut.

Upaya untuk menyediakan solusi di dunia pendidikan sebetulnya sudah dijalankan sebelumnya. Namun dengan strategi baru ini ViewSonic akan memberikan kebutuhan lanjutan di dunia pendidikan yang tentunya bukan dari ViewSonic sendiri melalui produk tetapi dari para pegiat pendidikan seperti guru untuk memudahkan pembelajaran mereka secara digital di kelas maupun dari rumah.

Hal tersebut disampaikan oleh Eko Handoko Wijaya selaku Country Manager ViewSonic Indonesia kepada tim Gadgetren dalam acara perayaan ulang tahun ViewSonic ke-35 di Manhattan Hotel Kuningan Jakarta.

Eko mengungkapkan bahwa jika pihaknya ada di dalam ekosistem maka kemungkinan akan ada transaksi, bukan hanya di luar saja. Hingga kini ViewSonic pun sudah merangkul sebanyak 7.000 guru di dalam komunitasnya yang tersebar dari Aceh sampai Papua.

Melalui komunitas tersebutlah, ViewSonic mendengarkan beragam testimoni dari para guru yang ingin memiliki fitur-fitur untuk dapat memudahkan mereka mengajar. Begitu pula bisa digunakan dengan mudah oleh murid-muridnya.

Salah satu fitur yang lahir atas permintaan para guru di komunitas ViewSonic ialah menghadirkan fitur di mana bisa mengetahui peserta yang tidak fokus ketika belajar daring. Fitur tersebut dinamakan classroom.

Viewsonic-2

Kemudian ada lagi fitur yang memungkinkan siswa di kelas tidak bisa mengakses jaringan internet atau aplikasi lain selain membuka pelajaran melalui aplikasi dari ViewSonic yang diberikan kepada guru-guru di kelas.

“Semua fitur tersebut sebelumnya tidak ada, oleh karena itu tidak ada kebutuhan dan ada permintaan maka kita kustomisasi. Biasanya kalau kita hadirkan produk belum tentu semua akan cocok tapi kalau kustomisasi sudah pasti akan bermanfaat,” ujarnya.

Ke depannya ViewSonic ingin berencana menggandeng lebih banyak instansi termasuk pemerintah, sekolah-sekolah, lembaga pendidikan untuk meluncurkan serangkaian program pelatihan dan sertifikasi untuk meningkatkan kemampuan pengajaran digital bagi para guru.

Viewsonic-3

“Kalau boleh jujur jumlah display di sekolah itu nggak sebanyak jumlah kelas. Di Indonesia ada berapa juta sekolah dan kelas. Kalau kita nggak penuhin berarti ada sekolah-sekolah gap terbelakang dan maju. Di sekolah-sekolah daerah sekarang kita coba berikan aplikasi gratis. Meski nggak ada internet tetap mereka bisa gunakan,” terangnya.

Namun demikian, ViewSonic pun turut mendukung dunia pendidikan digital dengan beberapa produknya yang telah tersedia dan bisa dibeli baik secara kolektif dari sekolah maupun individu. Seperti produk layar interaktif ViewBoard, perangkat lunak myViewBoard, dan ekosistem EdTech.

Produk myViewBoard juga diberikan secara gratis kepada K012, kalangan perguruan tinggi, dan universitas untuk mendukung pembelajaran secara daring. myViewBoard juga dilengkapi dengan tablet khusus untuk pengguna mengoperasikan.

Tinggalkan Komentar