Aplikasi Berita

Berikan Saran Untuk Pengguna, WhatsApp Bakal Bagikan Data Apa Saja Sih ke Facebook?

Mirip-WhatsApp-Apa-Itu-RCS-Pada-Aplikasi-Google-Message

Gadgetren – WhatsApp telah melayangkan persetujuan kebijakan baru Akun Bisnis yang mempunyai tenggat waktu 21 Mei 2021. Kebijakan baru tersebut tampaknya akan mengungkap metadata pengguna akun personal yang akan dibagikan ke Facebook.

Apa itu metadata dan apa saja rincian data yang ada di dalamnya? Nurlis Effendi selaku Pemimpin Redaksi Cyber Threath menjelaskan bahwa metadata pengguna terdiri dari informasi dasar perangkat yang digunakan dan informasi dasar pengguna.

Keduanya akan menampikan merek, tipe, memori, sistem operasi yang digunakan, informasi peramban, Detail IP dan ISP pengguna, jaringan layanan seluler yang digunakan, nomor telepon, serta pengidentifikasi perangkat.

Untuk informasi dasar pengguna kurang lebih mencakup siapa yang kamu kenal, siapa yang kamu kirimi pesan, kapan kamu berkirim pesan, seberapa sering berkomunikasi dengan seseorang atau grup, lokasi ketika sedang melakukan percakapan atau sedang berbagi lokasi, hingga informasi keuangan untuk data kartu kredit atau debit yang didaftarkan ke Bank.

Sementara untuk metadata WhatsApp yang dibagikan ke Facebook, Nurlis mengungkapkan bahwa akan digunakan untuk iklan dimana Facebook group akan mengolah, mengarahkan iklan dan memberikan kepada perusahaan yang beriklan seperti iklan HP baru yang sedang diluncurkan, iklan organisasi amal yang mungkin diminati pengguna, hingga ISP atau penyedia layanan seluler saingan yang ingin memperluas pasar dan mencari pelanggan baru.

Bulan Oktober 2020 silam, diketahui bahwa WhatsApp pernah menginformasikan akan memulai mencari uang yang nantinya seseorang bisa berbelanja barang lewat WhatsApp Bisnis dan menyelesaikan pembayarannya langsung dari WhatsApp Pay atau Facebook Pay sehingga semua akan berlangsung di satu platform.

“Cara kerjanya begini, saat seseorang hendak membeli furniture misalnya, dia cukup ketikkan di WA Bisnis. Hai, saya mau beli furniture, ada katalognya? Sistem WhatsApp kemudian akan memunculkan katalognya. Katalog ini berasal dari perusahaan yang mendaftar ke Facebook dan datanya disimpan di server Facebook. Untuk layanan ini, Facebook mengenakan biaya. Dari situlah duitnya berasal,” ujarnya kepada tim Gadgetren.

WhatsApp Business Logo

Dengan begitu, secara otomatis akun personal yang berkomunikasi dengan akun bisnis tidak dienkripsi atau mendapatkan perlindungan keamanan yang memungkinkan metadata tersebut dibagikan ke Facebook atau diberikan ke pihak ketiga. Nurlis menyebutkan alasannya dikarenakan sistem WhatsApp dapat membaca percakapan untuk kepentingan transaksi.

“Di sejumlah negara, ada aturan yang mewajibkan harus ada persetujuan dari pemilik data jika datanya dibagikan ke perusahaan lain, meskipun satu grup. Facebook pernah didenda di Eropa karena mengintegrasikan data pengguna WhatsApp dengan Facebook pada 2016,” terangnya.

Nurlis menyarankan kepada pengguna untuk lebih meningkatkan kewaspadaan dari phishing, URL mencurigakan atau aneh, mengaktifkan fitur verifikasi identitas keamanan dua kali (Two-Factor Authentication), dan tidak sembarangan untuk mengakses tautan.

Sebagai tambahan informasi, menurut Nurlis ada tiga hal yang hadir dalam data pribadi meliputi data yang diberi ke platform atau yang terpasang di handphone, data yang dicari lewat media sosial seperti foto dan alamat rumah yang juga bisa diperoleh di Google, serta data yang dicuri.

Persetujuan-T-C-WhatsApp-baru-2021

Data yang dicuri inilah yang memiliki kelemahan atau sebagai penyebab utama kerentanan keamanan yang dapat ditembus oleh peretas. Namun demikian perlu berhati-hati bahwa kerentanan keamanan itu sendiri bisa juga dikarenakan oleh kelalaian penggunanya.

“Sedangkan untuk pengguna yang paling penting adalah kesadaran dalam melindungi data pribadinya. Jadi untuk soal rentan diretas atau tidak, dimana pun dan apapun yang kita gunakan pada prinsipnya pada berbagai platform memiliki cacat bawaan, tetap ada kerentanan sibernya. Tetap ada kelemahannya,” tuturnya.

Sedikit berbeda dengan Nurlis, Alfons Tanujaya yang merupakan Pengamat Keamanan Siber dari Vaksincom mengatakan bahwa bagi pengguna yang merasa khawatir soal keamanan datanya bisa beralih ke Signal atau Telegram, meskipun belum banyak yang terbiasa.

WhatsApp

Kemudian bagi pengguna yang masih nyaman menggunakan WhatsApp untuk keperluan pekerjaan atau personal, Alfons pun tak melarang. Namun ia mengingatkan jika suatu saat terjadi monopoli, penggunalah yang akan dirugikan karena ketentuan baru kemungkinan besar akan digulirkan.

“Dia bisa ngeles. Ambil simpelnya seperti PLN. Dia naikin tiga kali, pengguna mau apa? marah? emang bisa menggunakan yang lain selain PLN? Akhirnya pengguna nggak bisa apa-apa dan harus tetap bayar! Jangan berikan kesempatan itu. Kalau PLN ada yang mengawasi yaitu Pemerintah, tapi WhatsApp nggak ada pengawasnya,” tutupnya.

Tinggalkan Komentar