
Review Samsung Galaxy Z Fold 8 Ultra
- Rating
Kesimpulan
Galaxy Z Fold 8 Ultra menawarkan pengalaman foldable yang premium tetapi ini dibayar dengan harganya yang semakin mahal dan belum kembalinya fitur S Pen.
Yang Disukai
- Bodi tipis dan ringan untuk foldable
- Daya tahan baterai memuaskan
- Software kaya fitur dan fungsional
- Layar memukau
- Kamera yang kompetitif
Yang Tidak Disukai
- Dukungan S Pen belum kembali
- Harga semakin sulit dijangkau
Gadgetren – Seri Galaxy Z Fold generasi terbaru kali ini hadir dalam dua model. Setelah sebelumnya mengulas Galaxy Z Fold 8, kini saya berkesempatan menjajal saudaranya, Galaxy Z Fold 8 Ultra.
Sejujurnya tidak banyak hal baru yang benar-benar menonjol dari Galaxy Z Fold 8 Ultra dan bisa dibilang inilah suksesor sebenarnya dari Galaxy Z Fold 7.
Samsung masih mempertahankan desain klasik Galaxy Z Fold tetapi kini membekalinya dengan peningkatan di sejumlah sektor.
Lalu apakah Galaxy Z Fold 8 ini layak dimiliki untuk menjadi partner sehari-hari? Berikut pengalaman saya selama menggunakannya.
Desain
Jika kamu mengharapkan perubahan besar dari segi desain, kamu mungkin akan kecewa karena Galaxy Z Fold 8 Ultra terasa familiar. Pasalnya, Samsung masih mempertahankan desain yang sangat mirip dengan pendahulunya.
Handphone ini memiliki bentuk memanjang seperti handphone konvensional saat terlipat. Ketika dibuka, layarnya membentang menjadi lebih luas dengan rasio yang hampir menyerupai persegi.
Dalam review ini, saya menggunakan varian warna Shadow Green yang tampil elegan dengan nuansa hijau gelap. Finishing bodinya yang tidak mengilap di setiap sisi juga membuat handphone ini terlihat semakin premium.

Di bagian belakang, Samsung masih mempertahankan modul kamera berbentuk elips yang sedikit menonjol dari permukaan bodi.
Sementara itu bagian depan dan belakangnya menggunakan material kaca dengan perlindungan Gorilla Glass Victus Ceramic 3 di bagian depan dan Gorilla Glass Victus 2 di bagian belakang.
Bingkainya menggunakan Armor Aluminium yang terasa kokoh. Untuk menunjang durabilitas, Galaxy Z Fold 8 Ultra juga memiliki sertifikasi IP48 yang memberikan perlindungan terhadap benda padat berukuran besar dan air.

Untuk konektivitas dan kontrol, tersedia port USB-C, tombol pengatur volume, tombol power, serta slot kartu SIM yang ditempatkan di sisi bodi.
Satu hal yang paling saya sukai dari desain Galaxy Z Fold8 Ultra adalah dimensinya. Bodinya terasa tipis saat dibuka sedangkan ketika dilipat terasa tidak begitu tebal.
Bobotnya yang hanya 215 gram juga membuat handphone ini nyaman digenggam. Saya belum pernah merasa pegal meskipun memegangnya dalam waktu cukup lama.
Layar

Meski desainnya terlihat tidak banyak berubah, Samsung menghadirkan teknologi Flex Titanium yang diklaim mampu menghasilkan struktur layar lebih tipis tanpa mengorbankan durabilitas.
Bagaimana dampaknya dalam penggunaan sehari-hari? Hal pertama yang langsung saya rasakan adalah lipatan pada layar utama yang semakin samar dan tidak terlalu terasa ketika disentuh.
Saat pertama kali menggunakan Galaxy Z Fold8 Ultra, lipatan layarnya hampir tidak terlihat. Namun setelah digunakan selama sebulan, lipatan tersebut mulai terlihat lebih jelas meskipun masih samar.
Menariknya ketika jari saya meraba area lipatan, permukaannya terasa lebih rata sehingga lipatannya hampir tidak terasa.
Galaxy Z Fold 8 Ultra juga masih mendukung Flex Mode yang memungkinkan layar utama diposisikan setengah terlipat untuk kebutuhan tertentu. Fitur ini tidak tersedia pada Galaxy Z Fold8 meskipun secara pribadi saya cukup jarang memanfaatkannya.

Beralih ke kualitas tampilan, layar utama maupun cover screen sama-sama memuaskan. Keduanya menggunakan panel Dynamic AMOLED 2X dengan adaptive refresh rate 1-120Hz dan tingkat kecerahan hingga 3.000 nits.
Kombinasi tersebut membuat kedua layar nyaman digunakan untuk menikmati berbagai konten, baik di dalam maupun di luar ruangan.
Cover screen berukuran 6,5 inci dengan resolusi 1.080 x 2.520 piksel. Rasio layarnya sudah mendekati handphone konvensional, meskipun masih terasa sedikit lebih ramping.

Sementara itu, layar utamanya berukuran 8 inci dengan resolusi 2.504 x 2.256 piksel. Bentuknya yang hampir persegi memberikan ruang luas untuk multitasking. Saya bisa menjalankan dua aplikasi sekaligus dengan ukuran tampilan yang terasa proporsional.
Namun rasio layar yang hampir persegi ini juga memiliki konsekuensi. Saat digunakan untuk menonton film, akan terlihat area kosong hitam yang besar dibandingkan layar dengan rasio yang lebih memanjang.
Performa

Untuk urusan performa, Galaxy Z Fold8 Ultra mengandalkan chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy yang dipadukan dengan RAM hingga 16GB dan penyimpanan internal hingga 1TB.
Kombinasi tersebut membuat handphone ini terasa sangat gegas dalam penggunaan sehari-hari. Ditambah layar utamanya yang luas, saya bisa menjalankan beberapa aplikasi sekaligus untuk multitasking tanpa menemui hambatan berarti.
Kemampuannya juga terasa saat digunakan bermain game berat seperti Genshin Impact. Saya bisa memainkannya dengan lancar menggunakan pengaturan grafis tertinggi.
Meski demikian, performa mentahnya tidak sekencang Galaxy S26 Ultra padahal keduanya menggunakan chipset yang sama. Hal ini cukup wajar mengingat perbedaan form factor yang memengaruhi performa.
Baterai

Salah satu peningkatan yang paling saya sukai dari Galaxy Z Fold 8 Ultra adalah kapasitas baterainya yang kini mencapai 5.000mAh.
Dalam penggunaan sehari-hari, saya mendapatkan Screen on Time sekitar 4 jam 40 menit hingga baterai tersisa 10%.
Untuk pola penggunaan saya, angka tersebut tergolong standar. Namun jika mempertimbangkan karakteristik foldable dengan layar yang lebih besar dibandingkan handphone biasa, daya tahan baterainya sudah cukup baik.
Hasilnya juga cukup meyakinkan dalam pengujian standar Gadgetren. Dari kondisi baterai penuh hingga tersisa 5%, Galaxy Z Fold8 Ultra mampu bertahan selama 20 jam 21 menit. Angka ini mendekati hasil pengujian Galaxy S26 Ultra sebelumnya.
Tak hanya kapasitas baterai yang meningkat, kemampuan pengisian dayanya juga mendapatkan pembaruan. Dengan dukungan pengisian daya kabel 45W, baterainya dapat terisi dari 5% hingga penuh dalam waktu 1 jam 4 menit.
Kecepatan tersebut didukung teknologi dual-path charging yang baru. Sementara itu penggunaan teknologi baterai silikon karbon turut memungkinkan Samsung menghadirkan kapasitas baterai yang lebih besar dalam bodi yang ringkas.
Bagi kamu yang lebih menyukai pengisian daya tanpa kabel, Galaxy Z Fold8 Ultra juga mendukung pengisian daya nirkabel hingga 20W.
Fitur dan Software

Galaxy Z Fold 8 Ultra menjalankan One UI 9 berbasis Android 17. Antarmukanya terasa nyaman dan mudah digunakan sekaligus menawarkan beragam fitur yang mendukung produktivitas maupun aktivitas sehari-hari.
Samsung juga menjanjikan dukungan pembaruan hingga tujuh generasi Android serta pembaruan keamanan selama tujuh tahun.
Salah satu fitur menarik yang tersedia adalah My FanCam. Fitur ini memudahkan saya mengedit video agar mengikuti subjek tertentu, misalnya anggota band favorit saat konser atau seorang penari di antara banyak penari lainnya.
Fitur My FanCam ini juga sebetulnya tersedia di Galaxy Z Fold 8 seperti pada review saya sebelumnya. Namun berkat sistem kamera Galaxy Z Fold8 Ultra yang lebih canggih, hasil video yang diolah menggunakan fitur ini bisa terlihat lebih baik.
Untuk mengedit foto, fitur yang paling saya sukai sekaligus paling sering digunakan adalah Photo Assist. Melalui fitur ini, saya bisa menghapus objek yang tidak diinginkan, mengubah gaya foto, hingga melakukan penyuntingan menggunakan perintah teks.

Sebagai contoh, saya pernah mengambil foto di dekat kastil Hogwarts. Dengan Photo Assist, saya bisa meminta handphone untuk menghapus orang-orang di latar belakang sekaligus mengubah suasana foto menjadi malam hari seperti di Hogwarts hanya dengan mengetikkan perintah.
Untuk penyuntingan video, tersedia aplikasi Studio yang menawarkan kemampuan editing lebih mendalam. Fiturnya memang belum selengkap aplikasi populer seperti CapCut tetapi sudah cukup untuk melakukan penyuntingan sederhana langsung dari handphone.
Selain fitur-fitur tersebut, Galaxy Z Fold8 Ultra juga membawa berbagai kemampuan Galaxy AI lainnya yang dapat membantu produktivitas, pembuatan konten, hingga mempermudah aktivitas harian.
Sayangnya ada satu hal yang cukup saya sesalkan dari Galaxy Z Fold8 Ultra yaitu absennya dukungan S Pen.
Padahal saya berharap fitur ini kembali hadir pada generasi terbaru ini agar layar besarnya bisa dimanfaatkan lebih maksimal terutama untuk keperluan mencatat dan menggambar.
Kamera

Salah satu kompromi yang kerap ditemukan pada perangkat foldable adalah sektor kamera. Namun Galaxy Z Fold 8 Ultra berhasil menawarkan sistem kamera yang cukup mumpuni.
Di bagian belakang, Samsung menyematkan kamera utama 200MP, kamera ultrawide 50MP, serta kamera telefoto 10MP dengan pembesaran optik 3x. Sementara itu kamera depan pada cover screen dan layar utama sama-sama memiliki resolusi 10MP.
Konfigurasi kamera belakangnya terbilang kompetitif dan mampu mendekati kemampuan Galaxy S26 Ultra. Meski begitu ada beberapa perbedaan yang perlu diperhatikan seperti absennya kamera telefoto dengan pembesaran optik 5x dan penggunaan sensor kamera utama 200MP generasi sebelumnya.
Terlepas dari perbedaan tersebut, kamera Galaxy Z Fold 8 Ultra sudah sangat kapabel untuk mengabadikan berbagai momen sehari-hari.
Saat ingin memotret pemandangan dengan sudut pandang luas, kamera ultrawide-nya bisa diandalkan untuk menghasilkan foto yang memuaskan.
Sementara itu kamera telefotonya walaupun beresolusi 10MP tetap mampu menghasilkan foto yang cukup baik baik ketika memotret objek dari kejauhan maupun mengambil foto portrait.
Untuk kamera di cover screen dan layar utama, saya lebih sering menggunakannya hanya sebatas untuk melakukan panggilan video karena hasil jepretannya yang biasa saja. Tidak masalah bagi saya karena untuk selfie bisa menggunakan kombinasi kamera utama dan layar cover screen.
Kemampuan perekaman videonya juga tergolong mumpuni. Selama menggunakannya, saya tidak menemukan lag yang mengganggu saat merekam video.
Galaxy Z Fold8 Ultra bahkan mendukung perekaman video hingga resolusi 8K. Namun saya lebih sering menggunakan resolusi 4K karena kualitas gambarnya sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan saya tanpa menghabiskan ruang penyimpanan terlalu besar.
Dalam mode auto, hasil rekaman videonya sudah cukup stabil untuk penggunaan sehari-hari. Jika membutuhkan stabilisasi yang lebih ekstrem, tersedia mode Horizontal Lock yang menjaga orientasi video tetap stabil meskipun handphone digerakkan ke berbagai arah.
Hasilnya memang lebih stabil tetapi ada konsekuensi yang perlu diperhatikan yaitu kualitas video yang tidak sebaik ketika merekam menggunakan mode biasa.
Kesimpulan

Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra merupakan perangkat foldable yang sangat mumpuni. Layarnya luas dan berkualitas, performanya gegas, kameranya kompetitif, serta daya tahan baterainya tergolong baik untuk perangkat dengan layar sebesar ini.
Semua kemampuan tersebut dikemas dalam bodi yang relatif tipis dan ringan untuk ukuran foldable. Meski tidak menghadirkan pembaruan yang benar-benar revolusioner, sejumlah peningkatan yang dibawa Galaxy Z Fold 8 Ultra tetap memberikan dampak nyata dalam penggunaan sehari-hari.
Sayangnya keunggulan tersebut datang dengan harga yang melonjak tinggi dibandingkan Galaxy Z Fold 7 di mana dijual mulai Rp32.499.000. Kenaikan harga komponen sudah pasti menjadi salah satu faktor tetapi tetap saja membuat perangkat ini semakin sulit dijangkau.
Selain itu absennya dukungan S Pen juga cukup disayangkan karena membatasi potensi layar besarnya untuk kebutuhan produktivitas.
Di luar kekurangan tersebut, Galaxy Z Fold8 Ultra tetap menjadi kandidat yang sangat kuat jika kamu sedang mencari perangkat foldable kelas atas.














Tinggalkan Komentar