
Gadgetren – Sebelum Xiaomi 17 Series secara resmi diluncurkan di Indonesia, Xiaomi Indonesia mengajak tim Gadgetren untuk mengikuti acara yang bertajuk Photography Experience: A Visual Journey with Xiaomi 17 Series & Leica yang diselenggarakan dari 26 Februari hingga 1 Maret 2026 di Yogyakarta dan Solo.
Dalam acara tersebut saya berkesempatan untuk mengabadikan berbagai momen berharga dengan menggunakan handphone Xiaomi 17 yang sudah dilengkapi dengan tiga kamera belakang yang terdiri dari kamera utama 50 MP, telefoto 50 MP, dan ultrawide 50 MP.
Berkat kerja sama antara Xiaomi dan Leica, membuat kamera Xiaomi 17 dapat menangkap berbagai momen dengan bagus dan lebih hidup di berbagai kondisi. Dengan lensa Summilux, dan sensor Light Fusion 950, membuat kamera utamanya dapat menghasilkan foto dengan kualitas bagus dan dynamic range yang baik.
Sementara kamera telefoto dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan foto dengan jarak yang jauh. Adapun kamera ultrawide dapat mengabadikan foto dengan area yang luas secara instan. Adapun kamera depannya mempunyai resolusi 50 MP untuk mendukung kebutuhan foto selfie dan vlogging dari penggunanya.

Untuk eksplorasi pertama pada tanggal 27 Februari 2026 diawali dengan mengunjungi Ledon Tinjon, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta yang terkenal dengan keberadaan studio alam berupa rumpun bambu.
Di tempat ini, saya mengabadikan berbagai situasi yang dihadirkan seperti interaksi pada pasar tradisional dengan pencahayaan yang menarik. Selain itu, saya juga dapat melihat orang sedang membuat wayang dengan berbagai peralatan utamanya.
Ada juga kegiatan di dapur tradisional yang melibatkan bapak yang sedang menuangkan air, ibu yang sedang memotong serta mengolah sayuran, dan ibu yang sedang memasakan dengan perapian tradisional.
Pada semua lokasi di Ledon Tinjon ini, saya banyak memanfaatkan kamera utama dan mode Portrait untuk mendapatkan interaksi antara manusianya pada hasil foto yang didapatkan. Saya juga melakukan kompensasi terhadap pencahayaan, dimana mengatur peningkatan atau pengurangan cahaya agar bisa mendapatkan foto dengan interaksi yang terlihat hidup.
Pada lokasi selanjutnya di Desa Payung Lukis Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, saya pun turut mengabadikan momen berharga ketika pelukis sedang menggambar ornamen khas Jawa pada payung untuk menjadi sebuah karya seni yang bernilai tinggi.
Banyaknya payung berada di berbagai sisi pelukis membuat saya dapat mengeksplorasi berbagai kamera Xiaomi 17 mulai dari kamera utama, ultrawide, dan telefoto. Ditambah lagi hadirnya fitur HDR yang dapat membuat hasil foto menjadi lebih tajam dan detail.
Berkat hadirnya gaya Leica: Vibrant atau Leica: Authentic, foto yang dihasilkan memiliki ciri khas seperti dijepret menggunakan kamera Leica. Apalagi foto terlihat lebih dramatis dengan hadirnya efek Vignetting (area agak hitam) di bagian pinggir.
Untuk eksplorasi terakhir di tanggal 28 Februari 2026 berada di lokasi Ketoprak Tobong Kelana Bhakti, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta yang menghadirkan interaksi banyak orang dalam memainkan Ketoprak di kondisi malam hari.
Dalam kondisi malam hari, kamera dari Xiaomi 17 masih mampu menghasilkan foto dengan terang dan jelas tanpa menurunkan kualitasnya. Sementara sebelum acara Ketoprak dimulai, saya juga diajak untuk mengabadikan berbagai momen yang terjadi selama proses make up dan pemakaian kostum dari pemainnya.
Pada keesokan harinya di tanggal 28 Februari 2026, saya berkesempatan untuk mengunjungi Kampung Batik di sekitar Solo untuk mengabadikan berbagai momen menarik mulai dari proses pewarnaan, pencucian, hingga penjemuran batik.
Proses pewarnaan ini melibatkan pekerja dengan mewarnai berbagai pola batik yang telah dibuat pada sebuah kain. Selanjutnya proses pencucian dilakukan untuk mengunci warna, membersihkan pewarna, serta membuat serat kain menjadi awet.
Selanjutnya proses penjemuran di bawah terik matahari untuk mengeringkan kain agar warna meresap, mengunci warna, dan warna sudah bersatu dengan kain sehingga pemakainya tidak akan terkena warna batik.
Bisa dibilang proses penjemuran ini yang paling ditunggu karena kain batik yang panjang akan dilempar oleh pekerja di area luas seperti bentuk bukit agar kain batik dapat dikeringkan secara merata.
Untuk lokasi selanjutnya berada pada pabrik pembuatan Gong di sekitar Solo dimana saya berkesempatan untuk secara langsung melihat dan mengabadikan berbagai momen selama pembuatan Gong berlangsung.
Hal yang paling menjadi tantangan selama masa pembuatan Gong ini suhu udaranya yang cukup panas sehingga saya perlu menyesuaikan diri agar dapat mengabadikan momen ini.
Momen pembuatan Gong sangat menarik karena pada saat Gong ditempa akan menghasilkan percikan api yang banyak. Selain itu, saya juga dapat mengabadikan momen-momen lain selama pembuatan Gong berlangsung, termasuk pekerja maupun proses kalibrasi Gong tersebut.
Menariknya kamera Xiaomi 17 dapat mengabadikan momen tersebut dengan baik. Tentunya pada area yang gelap selama Gong dibuat, saya mengatur kompensasi dari penambahan atau pengurangan exposure cahaya aga dapat menghasilkan foto yang bagus.
Selanjutnya Keraton Surakarta Hadiningrat menjadi tempat terakhir yang dikunjungi. Pada kesempatan ini, saya mengabadikan momen dengan berbagai prajurit yang berseragam lengkap yang berwarna-warni.
Tak lupa, saya turut mengabadikan prosesi make up para penari dengan kamera Xiaomi 17 dan tentunya kompensasi pencahayaan agar hasil fotonya menjadi terlihat lebih dramatis. Sementara proses menari pun dapat diabadikan dengan baik walaupun kondisi cahaya sekitar agak gelap.
Saya merasa bahwa Xiaomi 17 mampu menghasilkan foto dengan kualitas yang bagus, detail yang tajam, dan warna yang meningkat berdasarkan pengalaman memotret di enam lokasi berbeda antara Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Solo.
Untuk saat ini, belum diungkapkan spesifikasi dan harga resmi dari Xiaomi 17. Namun bagi kamu yang penasaran dengan informasi lengkapnya dapat menunggu hingga waktu peluncuran Xiaomi 17 Series diselenggarakan pada tanggal 3 Maret 2026 mendatang.


























Tinggalkan Komentar