Mading

Wah Bahaya, Pekerjaanku Bakal Diambil Robot?

AI Robot [Sumber: pexels.com][Ilustrasi: pexels.com]

Bukan Terminator, yang hendak memusnahkan umat manusia, atau Ultron, yang membasmi manusia karena dianggap biang kerok segala kerusakan di bumi, belakangan ini rasa takut dan khawatir muncul dari robot-robot virtual, para Artificial Intelligence alias kecerdasan buatan atau AI.

Sumber ketakutan terutama muncul dari OpenAI, sebuah lembaga yang mengembangkan AI serbaguna dengan nama GPT (Generative Pre-trained Transformer). Ya, nggak salah kok, namanya mengandung kata Transformer. Tentu maksudnya bukan Transformers, robot yang bisa berubah jadi benda lain.

Apapun kepanjangan GPT dan maksud dari nama itu, bagi kita-kita yang berada di luar ranah penelitian tentu saja yang menarik adalah bagaimana GPT bisa dimanfaatkan untuk banyak hal.

Sensasi terbaru (setidaknya saat tulisan ini dibuat) tentu saja ChatGPT. Ini adalah sebuah interface chatting dengan AI yang kadang membuat manusia planga-plongo karena terasa “cerdas”.

ChatGPT memungkinkan kita, manusia biasa, berbincang secara santai dengan robot alias AI yang menggunakan GPT versi 3 di belakangnya. Berbincang soal apa? Ya, apa saja sih.

Orang menggunakannya untuk mencari tahu soal suatu konsep, mencari penjelasan dan bahkan membuat cerita.

Tentu saja, rasa takut yang muncul adalah –karena AI ini bisa membuat tulisan– maka ia bakal menggantikan pekerja tulis-menulis, seperti copywriter, content writer atau bahkan (waduh-duh-duh) penulis kreatif.

Perlu kah kita khawatir? Nah, soal ini, memang masih jadi bahan pemikiran banyak orang. Rasa takut atau khawatir yang muncul, menurut saya sih, wajar-wajar saja.

Tapi, sejauh yang sudah bisa dilihat, GPT belum mampu menggantikan kerja kreatif manusia. Malah, ia menjadi sebuah tools yang memudahkan beberapa bagian pekerjaan, terutama yang sifatnya rutin dan tidak menantang.

Coba lihat teks berikut ini yang saya copy-paste dari ChatGPT:

Xiaomi dan Apple adalah dua perusahaan teknologi terkemuka yang berbasis di Asia dan Amerika Serikat masing-masing. Keduanya menawarkan berbagai produk seperti smartphone, tablet, dan perangkat wearable. Namun, ada beberapa perbedaan antara kedua perusahaan ini.

  • Xiaomi lebih dikenal di pasar Asia, sementara Apple lebih dikenal di Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya.
  • Produk Xiaomi biasanya lebih terjangkau dibandingkan dengan produk Apple.
  • Xiaomi menawarkan beragam produk teknologi, termasuk perangkat IoT dan elektronik rumah tangga, sementara Apple lebih fokus pada produk-produk mobile seperti iPhone dan iPad.
  • Dari segi desain, produk Apple biasanya memiliki desain yang lebih elegan dan premium dibandingkan dengan produk Xiaomi.
  • Xiaomi memiliki lebih banyak variasi produk dibandingkan dengan Apple, yang memiliki lebih sedikit variasi produk.

Secara keseluruhan, Xiaomi dan Apple adalah dua perusahaan teknologi yang sukses dengan produk dan layanan mereka yang berbeda-beda. Pilihan terbaik untuk Anda tergantung pada preferensi dan kebutuhan Anda sendiri.

Teks itu, sebagai sebuah runutan fakta dan sedikit analisa perbandingan ringan, cukup memadai. Namun untuk sebuah tulisan, terasa kering dan dingin. Tentu saja ini karena ChatGPT tidak diberikan “izin untuk berkreasi” seperti halnya penulis.

Nah, buat penulis yang tulisannya masih datar, kering dan sekadar fakta-fakta saja, tentu saja GPT dan AI lainnya bisa menggantikan. Maka saatnya penulis-penulis tersebut untuk meningkatkan kemampuannya. Namanya juga hidup, ya harus mau berubah, dong.

Oh, ya, AI itu juga bisa menuliskan dalam bahasa yang tidak terlalu formal, kok. Kalau kita minta. Ini contohnya:

Halo semuanya! Ada yang pernah mendengar tentang Xiaomi dan Apple? Kedua perusahaan ini sama-sama terkenal karena produk-produk mereka yang luar biasa. Tapi jika kita bandingkan keduanya, ada beberapa hal yang menarik untuk dibahas. Misalnya, Xiaomi memiliki harga yang lebih terjangkau dibandingkan dengan Apple. Namun, Apple memiliki reputasi yang lebih baik dalam hal kualitas produk dan layanan pelanggan. Jadi, pilihan tergantung pada kebutuhan dan budget masing-masing. Tapi yang jelas, kedua perusahaan ini sama-sama menawarkan pengalaman teknologi yang luar biasa.

Seperti saya bilang sebelumnya, cara paling waras untuk melihat perkembangan AI ini adalah menjadikannya sebuah tools. Tulisan dari ChatGPT, misalnya, bisa dikembangkan jadi tulisan original, dengan tambahan fakta terbaru, opini dan/atau analisa.

Penulis juga tidak perlu merasa sendirian, GPT juga telah dimodifikasi sehingga bisa digunakan untuk membuat gambar. Nama teknologinya Dall-E, pengguna cukup memasukkan permintaan dalam bentuk teks lalu AI akan membuatkan gambar sesuai permintaan itu.

Dall-E juga tidak sendirian, karena ada yang lain seperti Stable Diffusion, Midjourney atau Imagen. Bahkan, salah satunya merupakan teknologi di balik aplikasi yang belum lama ini populer, yaitu Lensa App.

Apakah ini berarti seniman visual juga terancam pekerjaannya? Sejauh ini, rasanya sih tidak. Namun, memang untuk hal-hal tertentu (sama seperti para penulis tadi) ada yang bisa dilakukan oleh “mesin” dengan lebih cepat.

Susahnya jadi manusia ya begini ini, kita harus selalu bisa beradaptasi dalam situasi yang berubah. Dan, belakangan ini, perubahannya memang terasa sangat cepat sehingga seakan-akan kita tak sanggup untuk mengimbanginya.

Tapi percayalah, selalu ada harapan untuk mereka yang mau bergerak dan berusaha. Dan, jangan lupa, meski kita punya harapan kita juga harus selalu membuka mata pada kenyataan. Jika keahlian kita masih sebatas yang bisa digantikan oleh AI, ya berarti kita harus meningkatkan keahlian.

Ya, saya tahu, ngomong lebih gampang dari berbuat. Tapi, pilihannya apa? Demo besar-besaran melawan AI, nanti mereka berubah jadi Terminator baru tahu rasa kita! Hehehe.

Tinggalkan Komentar