Mading

Bedanya Quick Charge dan Power Delivery Biar Gak Salah Beli

Bedanya Quick Charge dan Power Delivery - Header

Gadgetren – Qualcomm Quick Charge (QC) dan USB Power Delivery (USB-PD) menjadi dua di antara banyak protokol pengisian daya yang sering digunakan dalam membekali berbagai macam perangkat elektronik.

Kedua protokol ini soalnya mampu mengisi daya secara lebih cepat. Selain itu, terdapat juga sistem kontrol tegangan dan arus yang lebih baik untuk memastikan baterai tetap sehat dan perangkat tetap aman untuk digunakan.

Namun tentu saja kedua teknologi pengisian ini mempunyai beberapa perbedaan mendasar dalam implementasinya. Adapun kamu dapat menyimak pembahasannya secara lebih lanjut dalam penjelasan berikut.

Bedanya Quick Charge dan Power Delivery

Qualcomm Quick Charge

Seperti namanya, Quick Charge merupakan protokol pengisian daya yang dikembangkan oleh Qualcomm untuk menemani berbagai macam chipset miliknya. Jadi hanya tersedia secara terbatas pada perangkat-perangkat yang memakai produk mereka sebagai dapur pacu.

Quick Charge sendiri dirancang untuk membantu sebuah perangkat dalam mengelola daya yang dialirkan melalui antarmuka USB. Protokol ini nanti akan mencoba berkomunikasi dengan catu daya untuk menegosiasikan tegangan supaya sesuai dengan kemampuannya.

Oleh karena itu supaya bisa memakai Quick Charge, perangkat maupun catu daya perlu sama-sama mendukungnya. Jika tidak, maka proses pengisian tidak akan terjadi atau berubah menggunakan protokol lain sesuai fitur yang tersedia.

Karena hanya tersedia untuk produk dengan chipset buatan Qualcomm, Quick Charge sendiri umumnya hanya tersedia pada handphone maupun tablet. Sementara untuk catu daya sudah diimplementasikan pada wall charger, car charger, maupun powerbank.

Kemampuan pengisian daya Quick Charge pada setiap perangkat umumnya juga berbeda-beda tergantung versi yang digunakan. Misalnya Quick Charge 1.0 hanya mendukung hingga 10W, Quick Charge 2.0 hingga 18W, Quick Charge 3.0 hingga 36W, Quick Charge 4.0 hingga 100W, dan Quick Charge 5 lebih dari 100W.

USB Power Delivery

Berbeda dengan Quick Charge, Power Delivery merupakan standar pengisian daya yang dikembangkan oleh USB Implementers Forum (USB-IF). Protokolnya memungkinkan sebuah perangkat mengisi baterai lebih cepat lewat antarmuka USB.

Power Delivery menjadi protokol yang paling umum dipakai. Kita bisa menjumpainya pada berbagai macam perangkat yang mendukung proses pengisian daya lewat antarmuka USB mulai dari handphone, tablet, hingga laptop sekalipun.

Protokol ini lahir kurang lebih sekitar tahun 2012 bersamaan dengan peluncuran USB Type-C. Kala itu membawa ekstensi untuk meningkatkan kemampuan transfer daya USB Type-A and Type-B supaya bisa mendukung permintaan yang lebih besar.

Secara teknis, berbagai macam perangkat yang mendukung teknologi pengisian ini bahkan dapat meminta arus dan tegangan yang lebih besar dari catu daya tertentu. Hanya saja perlu diingat bahwa keduanya harus sama-sama mendukung protokol Power Delivery.

Setiap versi tentu mempunyai kemampuan berbeda-beda dalam hal ini. USB-PD 1.0 misalnya mendukung permintaan daya tetap mulai dari 10W (5V, 2A), 18W (12V, 1,5A), 36W (12V, 3A), 60W (12V, 5A), 60W (20V, 3A), hingga 100W (20V, 5A) tergantung jenisnya.

Sementara USB-PD 2.0 dan 3.0 mempunyai profil permintaan daya yang fleksibel hingga 240W dengan tegangan tetap tetapi arus berubah-ubah sesuai kebutuhan. Jadi bisa mendukung lebih banyak perangkat.

Pada revisi USB-PD 3.0 yang diluncurkan pada tahun 2018 silam, protokol pun semakin canggih karena membawa teknologi Programmable Power Supply (PPS). Hasilnya tak hanya arus saja yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan melainkan juga tegangannya.

Tinggalkan Komentar