Mading Tekno

Awas, Jebakan Pinjol dan Paylater Masih Mengintai!

Pinjol

Sebuah pesan masuk ke ponsel saya, isinya urgent, darurat. Seorang teman mengatakan ia butuh dana cukup besar buat bayar hutang yang bertumpuk. Sudah bisa diduga, hutang itu ke pinjaman tanpa jaminan lewat aplikasi alias pinjol.

Cerita semacam ini sudah sering terdengar, si ini dan si anu terjebak pinjol. Hutang yang awalnya cuma sekian rupiah jadi berlipat-lipat dan bertumpuk-tumpuk. Bunganya bukan cuma mencekik leher tapi rasanya seperti menghadirkan kiamat di depan mata.

Apalagi kalau pinjol yang dihadapi adalah pinjol ilegal. Layanan tak berizin yang kadang bahkan bisa disebut sebagai kriminal itu melakukan intimidasi dan teror dalam menagih hutang. Karena pada saat awal ia meminta peminjam menyerahkan akses ke buku alamat, maka si pinjol pun menyebarkan teror ke berbagai nomor telepon yang ada di situ.

Bukan hanya tekanan batin dan kerugian material, tapi juga sanksi sosial yang muncul dari tetangga dan kerabat jauh yang mendadak ikut diteror oleh pinjol.

“Emang dia pinjem uang buat apa sih? Kok bisa-bisanya pake pinjol?” suara-suara miring sejenis pun terbayang di benak peminjam.

Pinjol legal, meski tidak seburuk itu, juga sama saja. Jika gagal bayar hutang, peminjam akan masuk daftar hitam dan tidak bisa melakukan pinjaman lagi di layanan serupa. Entah sejauh mana dan selama apa daftar hitam ini akan berlaku.

Paylater Bagaimana?

Meski tidak semengerikan pinjol, ada godaan lain yang terasa lebih ringan namun sebenarnya punya potensi berbahaya. Namanya “bayar belakangan” alias buy now pay later.

Hadir lewat berbagai merek di berbagai layanan (biasanya layanan super apps, e-commerce, transportasi online dan aplikasi booking), jasa “bayar belakangan” ini sering menggoda pengguna di tanggal-tanggal tua.

Apalagi beberapa apps dengan asyiknya menyediakan promosi dan diskon untuk pembayaran lewat layanan sejenis. Mulai dari diskon yang wah hingga cashback, voucher dan lain sebagainya.

Apakah layanan “kasbon digital” ini juga berbahaya?

Jebakan Gampang

Baik pinjol ataupun paylater menggiurkan karena kemudahannya. Bayangkan di masa lalu untuk mencari pinjaman di nominal belasan juta saja kita harus tergopoh-gopoh ke bank, membawa berkas bertumpuk-tumpuk dan memohon-mohon pada petugas.

Sekarang, semua tinggal sat-set-sat-set dengan gesekan jari dan jempol, lalu selfie pakai KTP dan, ta-daaa, datanglah uang ke dalam rekening.

Kemudahan ini lah yang kemudian jadi jebakan. Karena proses meminjamnya gampang, kita jadi menggampangkan. “Ah, kan bunganya kecil” atau “Bayarnya nanti aja, abis gajian.” dan lain sebagainya.

Sebelum terlalu jauh, saya perlu ingatkan satu hal. Hutang-piutang adalah bagian tak terpisahkan dari hidup di jaman modern, serba ada, serba bisa, seperti sekarang ini. Saya bukan mau bilang: jangan berhutang!

Hal yang penting adalah kita harus sadar kondisi diri dan konsekuensi dari berhutang. Semudah apapun cara meminjamnya, hutang itu adalah sebuah janji yang harus ditunaikan.

Orang sedang berpikir

Jadi Harus Bagaimana?

Oke, balik lagi ke pinjol dan paylater. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah memperkuat diri dengan mempelajari soal manajemen keuangan. Pemahaman sederhana soal aliran uang alias cash flow saja bisa mengubah cara kita bertindak kok, apalagi memahami soal kebutuhan dana darurat, simpanan, investasi dan sebagainya.

Konsep lain yang perlu dipahami adalah dana dingin dan dana panas. Uang panas bukan berarti uang hasil perbuatan yang tidak-tidak, ya. Uang panas biasanya merujuk ke dana yang sudah ada alokasinya, sedangkan uang dingin adalah dana simpanan atau cadangan.

Nah, kalau uang dari hutang itu masuknya kategori apa? Sejujurnya, itu masuknya kategori hutang. Artinya, itu bukan bagian dari “dana yang tersedia” melainkan sebuah kewajiban yang harus dibayarkan, yang mengandung beban, yang nilainya tidak semata-mata sesuai nilai rupiahnya.

Pinjol dan paylater mungkin bisa dimanfaatkan, (Tolong perhatikan ada kata mungkin di kalimat itu ya) tapi harus dimulai dengan pemahaman dulu. Kalau kita menggunakan pinjol dan paylater untuk gaya hidup, untuk memenuhi keinginan konsumtif, jangan heran jika ujungnya terasa sangat berat dan membelit.

Kalau kita mau menggunakan untuk darurat, coba cari dulu cara lain. Misalnya, kalau terkait dengan kesehatan, apakah kondisi darurat ini bisa ditanggung oleh BPJS? (Eh, sudah punya BPJS kan?)

Ya, memang kesimpulannya akan terdengar klise, tapi ini penting untuk diulangi: Waspadalah! Waspadalah!

Tinggalkan Komentar