Berita

Proteksi Masih Lemah, Generasi Y dan Z Jadi Kunci Sukses Transaksi Digital

NFC Cek Saldo
Gadgetren – Di masa pandemi COVID-19 yang sudah masuk bulan kedelapan, transaksi online masyarakat Indonesia dengan berbagai jenis pembayaran digital telah bertumbuh mencapai 4 kali lipat.

Pertumbuhan ini menariknya disebabkan oleh hadirnya generasi Z dan Y yang seperti kita tahu selalu ingin tampil eksis dan tidak ketinggalan zaman terutama pada penggunaan gadget yang memanfaatkan teknologi pembayaran secara digital.

Hal ini disampaikan oleh Dr. Anung Herlianto E.C selaku Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK (08/10/2020) dalam diskusi virtual yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Indonesia dan platform Gojek.

“Hingga kini sebanyak 97% transaksi sudah dilakukan di luar kantor bank dan digitalisasi keuangan tidak berjalan sendirian. Ternyata generasi Z dan Y merupakan komposisi 82% faktor kunci sukses dari digitalisasi perbankan kita,” ujarnya kepada tim Gadgetren.

Dengan begitu di tengah pandemi yang membuat perekonomian terancam krisis ini, transaksi online yang dilakukan sebagian besar oleh anak muda menurut OJK mampu menaikkan pertumbuhan ekonomi.

Namun demikian masih ada tantangan yang muncul berupa literasi keamanan digital keuangan yang masih lemah. Hal ini dikarenakan semakin lebarnya ruang digital, maka semakin besar pula serangan siber yang baru-baru ini semakin marak terjadi.

“UU belum sampai menyentuh proteksi keamanan digital keuangan dan dalam proses pembuatan. Sektor perbankan telah mengatur produk layanan digitalisasi, sedangkan OJK melakukan mitigasi ada kemungkinan digital black out dimana yang telah terjadi di Jepang, semua data transaksi diretas dan rugi sekian milyar,” jelasnya.

Sementara platform penyedia layanan digitalisasi keuangan sudah aman, namun bagi Anung yang paling lemah adalah konsumen atau manusia. Sejalan dengan hal tersebut, Dino Milano selaku Director of Digital Finance Innovation Group, Otoritas Jasa Keuangan mengungkapkan variasi serangan siber semakin luas dan melebar.

Samsung Galaxy A30s NFC

“Kelemahan utama di konsumen membuat OJK berinisiatif meningkatkan edukasi kepada konsumen dengan pendekatan pengaturan area Financial Technology. WiFi salah satu tempat yang biasanya terjadi cyber attack,” ujarnya.

Adapun pengaturan area Fintech meliputi pemasangan alat pengaman digital dalam bentuk software, melakukan update secara berkala, menggunakan password yang berbeda di setiap transaksi keuangan, mengingatkan konsumen untuk membaca syarat dan ketentuan, dan edukasi untuk tidak melakukan input informasi personal secara sembarangan.

Hingga kini terkait serangan siber yang dilakukan oleh Fintech ilegal, Satgas Waspada Investigasi OJK sendiri telah menutup atau memblokir sebanyak 105 Fintech ilegal per bulan Juli 2020 dengan jumlah total keseluruhan 3.000 Fintech ilegal.

Tinggalkan Komentar