Berita

Xiaomi Gantikan Huawei Di Posisi Ketiga Setelah Samsung Dan Apple

Xiaomi Logo

Gadgetren – Dampak sanksi yang Huawei dapat dari pemerintah Amerika Serikat mulai kian terasa karena pada laporan terbarunya kini Xiaomi mampu menandingi Huawei dari sisi penjualan di tahun 2020.

Menurut informasi yang dihimpun tim Gadgetren dari Gizmochina menyebutkan bahwa sebuah laporan dari perusahaan riset pasar Strategy Analytics mengungkapkan penjualan Huawei di bulan Februari 2020 telah menurun.

Merujuk pada laporan tersebut, pengapalan smartphone Huawei di seluruh dunia sepanjang bulan Februari 2020 turun sebanyak 38% atau 62 juta unit dari tahun ke tahun. Penjualannya juga turun 39% dengan 65 juta unit dari tahun ke tahun.

Faktor ini bersama dengan masih adanya persediaan 4G yang tersimpan telah mempengaruhi Huawei secara negatif sehingga rata-rata pengiriman dan penjualan perusahaan pun turun masing-masing sebesar 69% dan 64% dari tahun ke tahun.

Akibatnya, Xiaomi berhasil menysul Huawei sebagai pembuat smartphone terbesar ketiga pada Februari 2020 meskipun pengiriman dan penjualannya masing-masing meningkat 32% dan 29% dari tahun ke tahun.

Dengan demikian perbedaan pengiriman antara Xiaomi dan Huawei kini hanya 0,5 juta atau 500.000 unit dengan total masing-masing 6 juta dan 5,5 juta pengiriman pada bulan sebelumnya, yakni Januari 2020.

Selanjutnya, Samsung merebut posisi teratas seperti biasa pada Februari 2020 dengan 18,2 juta unit dan diikuti oleh Apple dengan 10,2 juta unit. Kemudian, di posisi kelima dan keenam diakuisisi oleh Oppo dan vivo yang masing-masing mengapalkan 4 juta dan 3,6 juta unit.

Secara umum dapat disimpulkan  bahwa merek-merek yang tersebut mengalami penurunan pada pengiriman dan penjualan dengan selisih yang sangat besar.

Bila kita mengilas balik permasalahan yang dialami oleh Huawei, hal ini semakin menjadi masuk akal. Huawei diramalkan akan menghadapi banyak tantangan dan kesulitan untuk memulihkan dan menaikkan penjualannya.

Huawei sudah mengalami masa sulit sejak pemerintah Amerika Serikat menambahkannya ke ‘Daftar Entitas’ tahun lalu. Hal ini mau tidak mau memaksa perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS untuk meninggalkan bisnis mereka dengan Huawei.

Ditambah lagi, Huawei juga juga telah kehilangan lisensi Android sehingga mereka harus membuat layanan aplikasi secara mandiri. Melihat kenyataan ini, akankah Huawei mampu memulihkan penjualannya kembali ditengah perseteruannya dengan AS dan wabah korona yang tak dapat dipungkiri berimbas pada semua lini perusahaan teknologi?

Tinggalkan Komentar