Berita

Tak Hanya Minta Tebusan, Aplikasi Ilegal Bisa Bocorkan Informasi Pribadi

Mirip-WhatsApp-Apa-Itu-RCS-Pada-Aplikasi-Google-Message

Gadgetren – Pandemi COVID-19 kini telah memaksa masyarakat untuk semakin intensif menggunakan platform digital bagi kesehariannya. Namun demikian, keterbukaan ruang digital juga punya sisi positif dan negatif.

Dimana pada sisi negatif dapat menimbulkan permasalahan lain akibat kurangnya pemahaman atau literasi masyarakat. Berdasarkan penelitian terbaru mengenai aplikasi ilegal, disebutkan bahwa sebanyak 30% aplikasi yang ada di Google Play Store masih patut diwaspadai keamanannya lantaran mengandung malware.

Hal ini secara langsung dikatakan oleh Dr. Charles Lim selaku Pakar IT dan Ahli Keamanan Digital dari Swiss German University. Ia menjelaskan bahwa secara sederhana malware menampilkan iklan, namun juga bisa mengunci handphone pengguna tanpa persetujuan lebih dulu.

“Selain meminta uang tebusan dalam bentuk koin, informasi yang ada di handphone pengguna berupa video, foto, data chatting akan terancam. Kalau tidak diberikan, informasi akan diberikan ke publik, ini sangat berbahaya dan akan memalukan individu tersebut,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa meskipun aplikasi yang berada di Google Play Store bisa dibilang sudah terverifikasi, namun tidak 100% aman sehingga pengguna diharapkan terus berhati-hati. Ia pun menuturkan bahwa cukup sulit untuk bisa menghindari pencurian data atau penipuan dari aplikasi ilegal.

“Dengan waspada maka kita akan mengurangi serangan-serangan siber dari kehilangan data pribadi. Kehati-hatian sangat penting terhindar dari berbagai penipuan. Terutama untuk people atau manusianya sendiri,” tambahnya.

Oleh karena itu, menurutnya penting sekali bagi platform digital untuk selangkah di depan dalam perlombaan dengan pelaku kejahatan digital, baik melalui inovasi teknologi ataupun dengan memastikan pihak-pihak di dalamnya punya literasi yang cukup lewat edukasi.

Aplikasi semacam ini sangat jamak di industri dan biasanya muncul dengan tawaran yang menggiurkan berupa akses premium tanpa harus membayar biaya langganan. Sesuatu yang gratis pun masih menjadi godaan buat masyarakat dan sayangnya banyak yang masih kurang waspada serta cenderung abai terhadap keamanannya sendiri.

Akibatnya, berbagai risiko bisa muncul mulai dari pemblokiran akun sampai yang paling parah adalah ancaman atas keamanan data dan perangkat elektronik pribadi.

Tinggalkan Komentar